Bakti pada Orang Tua: Bentuk & Tips Mewujudkannya

bakti pada orang tua bentuk dan tips lengkapnya

“Bro, kenapa ya nunjukin bakti pada orang tua itu rasanya susah banget sekarang ini? Aku tuh ngerasa bersalah banget sama ibuku. Minggu lalu ibu masuk UGD karena darah tinggi. Aku cuma bisa telepon, soalnya aku sendiri lagi lembur. Dan yang bikin aku sedih banget, ibu bilang ‘gak papa nak, ibu gak mau repotin kamu’. Aku nangis, bro!”

Saya diam sejenak, lalu jawab: “Loe itu anak baik Bro! Tapi kadang bakti pada orang tua itu perlu kita rencanakan dengan baik. Gak bisa cuma mengalir begitu aja.”

Demikian seklumit obrolan curhat seorang teman di kantin kantor beberapa bulan lalu. Dari obrolan itu saya sadar —banyak dari kita inigin berbakti, tapi bingung caranya. Atau kadang kita sudah berusaha, tapi masih saja merasa kurang.

Tulisan ini membagikan pengalaman kami sendiri dan pengalaman banyak teman, kerabat, bahkan klien kami di LIFEFRIEND.ID. Semoga menjadi sharing berharga dan bermanfaat untuk Anda yang membacanya.

5 Bentuk Bakti pada Orang Tua: Kisah Nyata & Hikmahnya

Kami mengelompokkan bakti kepada orang tua ke dalam lima bentuk, yaitu: bakti dalam bentuk fisik, komunikasi, menjaga martabat, dukungan moral, dan dukungan keuangan.

Kami juga sertakan cerita dari orang‑orang di sekitar kami —identitas kami samarkan, tapi kejadiannya benar terjadi.

Bakti dalam Bentuk Pelayanan Fisik; Bukan sekedar Kata-kata

Ayah kami suka minta untuk diantarkan ke pasar setiap hari Minggu pagi. Awalnya kami malas. Namun suatu hari beliau berkata demikian,, “Nak, bukan ayah gak bisa naik angkot. Tapi ayah kangen dengan kebersamaan kita dulu waktu mau masih kecil.” Sejak itu, kami mengusahakan untuk selalu ada waktu untuk antar ataupun jemput beliau, meski cuma sekedar pergi ke warung dekat rumah.

Pernahkah Anda mengalaminya juga? Atau kejadian yang mirip dengan pengalaman kami di atas?

Bakti dalam bentuk pelayanan fisik adalah bentuk bakti yang paling sederhana dan paling mudah untuk kita wujudkan. Namun tentu tidak semudah dalam pelaksanaannya.

Contoh praktis dukungan fisik yang bisa kita lakukan sehari-hari:

  • Menemani ibu periksa gigi, meskipun kita tinggal di kota dan beliau di desa. Kami tahu seorang rekan yang sebulan sekali pulang ke Pekalongan dari Jakarta hanya untuk menemani ibunya kontrol rutin di Puskesmas.
  • Membelikan kursi goyang yang empuk, lalu duduk di sampingnya sambil ngobrol dan saling bercerita.
  • Memegang tangan orang tua saat beliau kesulitan berjalan. Saya masih ingat Pak RT kami yang selalu memapah ibunya yang sudah stroke setiap mau ke masjid. Itu bentuk bakti yang membuat banyak orang terharu.

Kita tidak bisa hanya berkata, “saya sayang”. Kita juga harus bisa menunjukkannya dengan tindakan-tindakan kecil yang konsisten. Mereka tidak minta yang mewah-mewah.

Komunikasi Yang Berkualitas, Bentuk Bakti pada Orang Tua

Seorang rekan usaha kami, sebut saja Ali, setiap hari selalu menelepon ibunya. Bukan telepon yang panjang, kadang cuma 30 detik. Sampai suatu hari ibunya sakit dan masuk rumah sakit. Ali menelepon rumah sakit dan menyampaikan pada dokter, “Dok, ibu saya kalau dapat telepon dari saya, tensi-nya akan turun dan normal kembali.” Dokter pun memberikan kesempatan kepada sang Ibu untuk menerima telepon dari anaknya. Dokter dan terkejut melihat tensi pasiennya normal kembali.

Ternyata komunikasi rutin bisa mempengaruhi kondisi kesehatan mental orang tua kita. Sapaan ringan dan rutin dari anak-anak mereka membantu menjaga kesehatan mereka.

Dari sini ada beberapa contoh bentuk bakti komunikasi pada orang tua kita:

  • Kirim voice note sambil masak pagi. “Bu, saya lagi bikin dadar, dulu ibu sering kasih saya lho waktu kecil.”
  • Saya punya kebiasaan setiap Senin malam menelpon kedua orang tua Saya. Hanya 5 menit untuk menanyakan kabar, apa yang mereka makan, atau sekedar menanyakan cuaca hujan atau tidak.
  • Hindari memotong pembicaraan mereka meskipun ceritanya itu‑itu lagi. Menurut psikolog, itu kebutuhan mereka untuk merasa didengar.
  • Jangan kirim pesan bertuliskan “Ibu/Ayah baik‑baik?” terus sibuk sendiri. Duduklah, tatap matanya (atau video call), dan dengarkan.

Bagaimana?.. Anda sudah melakukannya?.. Share ya pengalaman Anda pribadi seperti apa di kolom komentar.

Bakti Pada Orang Tua: Menjaga Nama Baik dan Martabat Keluarga

Ini sering banget dilupakan.

Kami pernah melihat seorang anak di sebuah mini market dengan suara keras sekali berkata, “Aduh Ayah, gak usah bawa belanjaan banyak‑banyak, kan jadi susah sendiri bawanya!” Ayahnya hanya diam, malu. Padahal, si anak bisa berkata dengan lembut sambil membantu ayahnya membawa belanjaan-nya.

Contoh sehari‑hari:

  • Jangan pernah membentak orang tua di depan orang lain. Meskipun Anda benar.
  • Saat saudara atau tetangga mengkritik orang tua Anda, belalah dengan cara yang santun. Saya pernah lihat seorang anak muda berkata, “Maaf om, ayah saya memang sudah lupa‑lupa sedikit, tapi beliau tetap ayah terbaik buat saya.” Itu luar biasa.
  • Jika ibu atau ayah melakukan kesalahan (misal tertipu penjual yang tidak jujur), jangan malah menghakimi. Katakan, “Ibu gak tahu kalau harganya segitu, ya gak apa, nanti saya yang urus.”

Kata-kata dari seorang rekan yang bisa kita jadikan motto untuk kita ingat selalu: 

“Hati-hati dalam berucap, jangan sampai membuat mereka merasa rendah diri, meski hanya di dalam hati.

Bakti dengan Dukungan Moral dan Mental

Seorang ibu dari klien kami sudah berusia sekitar 70 tahun Beliau tinggal sendiri di Bogor karena suaminya telah meninggal dunia. Klien kami ini tinggal dan bekerja di Batam. Setiap bulan, klien kami pulang ke Bogor selama 3 hari menemui ibunya. Akan tetapi yang membuat si ibu ini tetap semangat adalah anaknya selalu bilang, “Bu, tenang saja. Ibu tidak pernah sendiri. Saya di Batam pun, saya selalu mikirin ibu setiap hari.”

Anak itu memberikan kepastian. Akibatnya, si ibu menjadi reda rasa cemas-nya sebagai orang tua. Ini adalah buah dari perkataan anaknya yang menyejukkan hatinya.

Contoh-contoh mudah dukungan moral yang bisa kitatunjukkan pada orang tua kita:

  • Katakan terang‑terangan, “Ibu/Ayah, saya akan jaga ibu/ayah sampai kapan pun.” Ucapkan dengan yakin.
  • Jika orang tua mulai cemas tentang biaya kesehatan, jangan bilang “jangan pusing”, tapi bilang “saya sudah siapkan rencana untuk itu, nanti saya jelaskan”.
  • Cium tangan dan peluk mereka dengan hangat. Orang Indonesia sering malu‑malu. Padahal, pelukan melepaskan oksitosin, hormon bahagia. Saya peluk ibu saya setiap sebelum tidur.

Dukungan moral semacam ini seringkali lebih berharga dari apapun.

Dukungan Keuangan yang Berkelanjutan

Ini bentuk bakti yang paling tidak romantis, namun inilah yang paling krusial!

Seorang sahabat saat kuliah dulu, ayahnya adalah pensiunan pegawai negeri. Pensiun kecil. Sahabat kami waktu itu baru lulus, belum kerja tetap.

Suatu hari ayahnya jatuh sakit, butuh operasi katarak. BPJS menanggung, namun butuh uang untuk bisa mendapatkan pilihan lensa dan frame yang lebih baik. Sahabat kami ini menangis di depan saya, “Saya gak punya uang lebih. Saya merasa sangat gagal sebagai anak!”

Beruntung pada waktu itu kami bisa memberinya pinjaman dahulu untuk membantu memenuhi harapannya. Akan tetapi peristiwa itu memberi suatu pelajaran berharga buat kami berdua: memberi uang secara sporadis atau rutin saja tidak cukup. Orang tua kita membutuhkan keyakinan bahwa kebutuhan dasarnya, kebutuhan kesehatannya, dan kebutuhan hari tuanya aman meskipun saat kita sedang dalam kesulitan.

Beberapa contoh nyata yang sering terjadi antara lain:

  • Orang tua kita memerlukan biaya operasi angkat batu ginjal sebesar 3 juta rupiah. Namun di saat yang sama, kita baru saja membayar cicilan rumah. Tabungan pun menipis, BPJS Kesehatan tidak punya, apalagi asuransi swasta
  • Ibu kita minta tolong belikan pengharum ruangan. Kita bilang “nanti”, padahal hanya 15 ribu. Ini bukan masalah uang, namun masalah prioritas.

Lalu apa cara terbaik yang bisa kita lakukan sebagai wujud dukungan keuangan pada orang tua? Berikut ini langkah-langkah preventif yang bisa kita eksekusi dengan segera;

  1. Hitung kebutuhan rutin mereka setiap bulan (listrik, air, belanja, obat).
  2. Pastikan ada alokasi tetap dari penghasilan kita untuk mereka. Meskipun kecil, tak ada masalah.
  3. Siapkan proteksi jangka panjang berupa asuransi untuk menghadapi situasi buruk yang banyak menimpa orang tua, yaitu sakit berat, sakit kritis, kecelakaan, atau tutup usia lebih cepat dari perkiraan kita.

Dan itu membawa kita ke bagian yang jarang dibahas orang.

Bakti yang Mudah Namun Sering Terlupakan

Ada 1 wujud bakti pada orang tua yang mudah dan murah, namun banyak orang melupakannya. Apa bentuknya?

Sekarang, kami ajak Anda merenung sejenak,

Apa yang bisa Anda lakukan jika besok atau lusa, orang tua Anda tiba‑tiba sakit keras? Sudah siapkah Anda menanggung seluruh biaya rumah sakit untuk kesembuhannya?

Atau, maaf, bagaimana jika orang tua Anda meninggalkan dunia ini lebih cepat dari perkiraan? Apakah Anda sudah menyiapkan upacara pemakaman terbaik untuknya sebagai penghormatan terakhir sekaligus doa terbaik?

Memang bukan pertanyaan mudah. Namun, kita tidak akan mengangkatnya jika tidak penting. Kenapa? Karena 2 peristiwa di atas adalah peristiwa kehidupan yang pasti akan terjadi dan sering menimpa para orang tua kita. Untuk itu kita dapat mengantisipasi sebelum harus merasakan pahit-nya ketika kita tidak siap.

Dengan pengalaman kami bersama selama 11 tahun membantu klien di LIFEFRIEND.ID, kami menemukan pola yang sama:

Keluhan terbesar dari anak-anak yang orang tuanya sudah lanjut usia adalah ketakutan akan biaya—bukan karena mereka tidak sayang, tapi karena mereka tidak punya jaring pengaman.

Di sisi lain, banyak yang masih berpikir, “Ah, nanti saja.. Orang tuaku kan masih sehat..” Padahal, seperti kata klien setia kami:

Orang sakit.. orang apes.. tidak ada di kalender!
-Arda NAFF

Yang Terjadi Jika Tidak Menyiapkan Asuransi untuk Orang Tua

Mari kami ceritakan beberapa kejadian yang sering kami lihat:

1. Pengobatan yang Setengah‑setengah.

Seorang ibu perlu menjalani rawat inap di rumah sakit. Karena antrean BPJS yang terlalu panjang, anaknya memasukkan ibunya ke rumah sakit non rujukan. Ia terpaksa memilih kelas ruang rawat terendah, obat-obat generik, bahkan memulangkan ibunya lebih cepat karena uang tabungan sudah banyak berkurang untuk perawatan ibunya di rumah sakit.

2. Obat-obatan yang Tidak Optimal

Sebagaimana pada umumnya, orang tua mulai mengalami gejala-gejala penyakit kronis; darah tinggi, diabetes, maupun gangguan jantung. Kondisi yang memaksa mereka untuk minum obat secara rutin. Tanpa asuransi, orang tua terpaksa memilih obat yang murah. Padahal, obat murah memiliki efek samping yang lebih berat. Lebih parah lagi jika mereka tidak minum obat sesuai anjuran dokter karena mau “hemat dulu.” Ini bisa memperburuk kondisi kesehatan orang tua kita.

3. Berharap pada bantuan dari anak & menantu

Banyak orang tua yang pada masa tuanya mengandalkan bantuan anak-menantu mereka untuk kebutuhan hidup harian mereka. Mereka mungkin tidak memiliki uang pensiun, atau dana pensiun yang mereka siapkan kecil sekali karena tidak menghitung dan merencanakan pensiun dengan baik saat mereka masih muda. Akibatnya, di usia senja mereka masih harus tetap memikirkan kebutuhan hidup sehari-hari mereka sendiri; biaya listrik, air, dan obat setiap hari. Anak dan menantu pun terbebani karena harus menyisihkan gaji setiap bulan untuk orang tua mereka. Padahal, mereka pun memiliki kebutuhan keluarga yang harus menjadi prioritas.

4. Pemakaman seadanya

Tidak ada maksud menakut‑nakuti, namun hal ini sering terjadi. Kami pernah mendampingi klien yang ayahnya meninggal mendadak. Karena tidak punya dana, mereka hanya bisa memakamkan almarhum ayah mereka dengan acara pemakaman yang paling sederhana. Klien kami menangis di depan saya, “Gua gagal jadi anak ‘bro!.. Gua bahkan gak bisa kasih Ayah yang terbaik di hari pemakamannya.”

Empat pengalaman pahit dan mengiris hati. Dan semuanya bisa kita cegah agar orang tua kita tidak ikut mengalaminya. Dengan menyiapkan proteksi, kita tidak hanya meringankan beban keuangan, namun juga memberikan ketenangan untuk orang tua kita di masa senja mereka

Tindakan Kecil yang Bisa Anda Lakukan Hari Ini

Lalu bagaimana selanjutnya? Langkah kecil apa yang bisa Anda mulai untuk menunjukkan bakti pada orang tua?Tidak perlu muluk‑muluk. Pilih satu saja:

  1. Telepon orang tua Anda sekarang. Katakan “Ibu/Ayah, terima kasih ya..!
  2. Catat tanggal kontrol kesehatan mereka di kalender ponsel Anda.
  3. Hitung kebutuhan bulanan mereka, lalu buat komitmen untuk memenuhi setidaknya 30% dari kebutuhan itu.
  4. Mulai cari tahu informasi tentang proteksi untuk orang tua Anda. Hubungi staf LIFEFRIEND.ID untuk mendapatkan info yang Anda butuhkan.

FAQ – Jawaban Singkat atas Pertanyaan yang Sering Kami Terima

Q: Apakah asuransi jiwa bisa untuk orang tua yang sudah sakit?
A: Bisa, tapi dengan premi lebih tinggi atau ada pengecualian untuk penyakit yang sudah ada. Lebih baik beli saat mereka sehat. Tapi jika sudah sakit, cari produk asuransi kesehatan khusus lansia.

Q: Lebih baik saya tabung sendiri atau beli asuransi jiwa?
A: Kombinasi. Tabungan untuk kebutuhan rutin, asuransi untuk risiko besar. Karena kalau resiko menimpa orang tua kita tahun depan, tabungan yang kita siapkan mungkin belum cukup. Sedangkan dengan asuransi langsung dananya otomatis siap ketika kita membuka polis.

Q: Apakah asuransi haram?
A: Kami bukan ulama. Tapi setahu kami ada fatwa MUI yang membolehkan asuransi dengan catatan tidak mengandung riba dalam praktiknya. Untuk rasa yang lebih lebih aman, pilihlah asuransi syariah. Yang penting bulatkan niat untuk berbakti kepada orang tua dengan cara yang halal.

Q: Saya karyawan biasa, penghasilan kecil. Apa bisa buka asuransi untuk orang tua saya?
A: Bisa! Mulai dari yang kecil. Premi asuransi seharga kopi “Starling sehari pun ada! Tinggal diniatkan saja.


Semoga tulisan ini bermanfaat untuk kita semua. Mari selalu ingat,

“Bakti terbaik adalah yang membuat orang tua tersenyum saat kita ada, dan tetap tenang saat kita tidak di samping mereka.”

Salam hangat dari kami di LIFEFRIEND.ID

Tuliskan komentar Anda di sini

Video Pilihan Untuk Anda

Pendapat Client Tentang Kami

Artikel Populer

Sign up for our Newsletter

Click edit button to change this text. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit